Kebijakan Pajak Sembako Bikin Lesu Daya Beli, Masyarakat Bisa Gugat

progresifjaya.id, JAKARTA – Wacana pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk bahan pokok atau sembako sebesar 12 persen menulai kritik dari elemen masyarakat. Terutama ibu-ibu rumah tangga. Sudah pusing dengan keadaan pandemi yang berakibat pendapatan ekonomi berkurang sekarang pemerintah bakal kenakan pajak untuk sembako.

Tidak ada pajak saja sembako sudah mahal. Bagaimana ditambah ada pajak. Ibu Iyoh, seorang ibu rumah tangga mengeluh dengan uang belanja 50-70 ribu rupiah hanya mendapat sayuran. Kalau mau ditambah telur dan ayam atau ikan tentunya harus mengeluarkan uang ekstra. Mungkin bisa mencapai 100 ribu setiap belanja. Itu belum daging. Pengeluaran bisa lebih.

“Haduh kok mau dipajakin. Bagaimana sih pemerintah. Selama ini saja belanja sudah mahal, apalagi ada pajak? Kita-kita mau makan apa?” ucap Ibu Iyoh bingung mendengar sembako bakal kena pajak.

Sementara itu, Ketua Konstitusi Demokrasi Inisiatif Veri Junaidi berpendapat pemerintah semestinya berpatokan pada keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) sebelumnya sebagai dasar hukum untuk tak memungut PPN bahan pokok.

Rencana pengenaan PPN terhadap bahan pokok adalah yang pertama kalinya dilakukan pemerintah. Dalam Pasal 4A ayat 2 huruf b UU No. 42/2009 tentang Perubahan Ketiga Atas UU No. 8/1983 tentang PPN Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, pemerintah telah menetapkan 11 bahan pokok yang tidak dikenakan PPN.

“Jika pemerintah saat ini justru menyiapkan aturan lain untuk mengenakan PPN, hal ini dikhawatirkan bertentangan dengan undang-undang,” jelasnya seperti dikutip dari Koran Bisnis.

Sementara itu, Ahli hukum dari Universitas Sebelas Maret Surakarta Muhammad Taufik berpandangan putusan MK pada 2017 wajib dihormati oleh setiap pemangku kepentingan. “Kalau nanti ditetapkan, masyarakat berhak mengabaikan itu. Masyarakat boleh menolak dan (pemungutan PPN) bisa digugat,” ujarnya.

Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira menilai kebijakan pengenaan PPN barang bahan pokok ini akan kian menggerus daya beli dan konsumsi rumah tangga yang sejak tahun lalu lesu akibat pandemi Covid-19.

Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia Abdul Hamid juga khawatir biaya produksi akan naik jika pajak turut menyasar benih.

“Akan berat bagi petani dan konsumen karena biayanya pasti bakal lebih tinggi. Saran saya, saat masa susah, kesampingkan dulu rencana itu (penerapan PPN untuk sembako),” ungkapnya.

Ketika dikonfirmasi sejumlah pejabat Ditjen Pajak dan Badan Kebijakan Fiskal tidak bersedia menanggapi rencana ini. Alasannya, draf tersebut sedang dalam proses kajian dan masih menunggu pembahasan dengan DPR.

Pemerintah berencana mengenakan PPN atas barang bahan pokok dari sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan. Berdasarkan berkas rumusan RUU Ketentuan Umum Perpajakan yang diperoleh Bisnis, ada tiga opsi tarif untuk pengenaan PPN barang kebutuhan pokok ini. Pertama, diberlakukan tarif PPN umum yang diusulkan sebesar 12 persen.

Kedua, dikenakan tarif rendah sesuai dengan skema multitarif yakni sebesar 5 persen, yang dilegalisasi melalui penerbitan Peraturan Pemerintah. Ketiga, menggunakan tarif PPN final sebesar 1 persen.

Daftar 11 bahan pokok yang bakal dikenakan PPN, antara lain beras, gabah, jagung, sagu, kedelai, garam, daging, telur, susu, buah-buahan, dan sayur-sayuran.

Editor: Rere

Bagikan Berita Ini: