John Kei Tak Menyangka Penagihan Hutang ke Pamannya Berakhir Tragis

progresifjaya.id, JAKARTA – Sidang kasus pembunuhan yang melibatkan John Kei dan puluhan orang anak buahnya masih berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Barat .

Sidang lanjutan pada Rabu 20 Januari 2020 kembali digelar dengan agenda pembacaan Eksepsi dari Tim kuasa hukum para terdakwa. Sidang di gelar secara daring yang berlangsung diruang sidang utama Kusumah Atmadja.

Satu anak buah John Kei atas nama Franklin Resmol tidak hadir dalam sidang eksepsi tersebut .

Meski para terdakwa dihadirkan secara virtual, Franklin tidak hadir di Resmob Polda Metro Jaya.

Franklin tidak hadir lantaran harus menjalani pengobatan di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Salah satu otak dari penganiayaan dan pembunuhan atas anak buah Nus Kei itu ternyata menderita gagal ginjal stadium 3.

Selama ditahan di Polda Metro Jaya, Franklin disebut harus ganti cairan setiap hari untuk ginjalnya.

Terkait hal itu , kuasa hukum meminta majelis hakim memindahkan Franklin ke Rumah Sakit Hermina Bekasi.

Hal itu lantaran Franklin sudah memiliki rekam medis di rumah sakit tersebut.

“Jadi saya mohon yang mulia agar dapat mengabulkan pemindahan terdakwa Franklin dari RS Polri ke RS Hermina,” kata  kuasa hukum Franklin Anton Sudanto .

Sementara itu Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengajukan keberatan atas permohonan kuasa hukum.

Permohonan itu dianggap dapat membahayakan keamanan lantaran RS Hermina Bekasi merupakan rumah sakit sipil biasa.

Sehingga mereka meminta hakim mempertimbangkan permohonan kuasa hukum.

Ketua Majelis Hakim Yulisar mengaku akan mempertimbangkan permohonan kuasa hukum dan sanggahan JPU.

Persidangan atas terdakwa John Kei dan enam anak buahnya dilanjutkan pekan depan Rabu (27/1/2021) .

Persidanga dengan agenda eksepsi itu menunggu jawaban JPU atas eksepsi yang telah diajukan John Kei dan keenam rekannya atas kasus penganiayaan dan pembunuhan.

Pesan John Kei

Kuasa hukum John Kei, Anton Sudanto mengungkapkan satu pesan khusus John Kei kepada ke-24 kuasa hukumnya.

Pesan itu diungkapkan sebelum sidang perdana John Kei digelar.

“Iya ada satu pesan John Kei kepada kami. Beliau mengaku tidak menyangka penagihan hutang terhadap Nus Kei berakhir seperti ini,” terang Anton kepada para wartawan usai sidang. ditemui usai sidang di.

Anton menjelaskan bahwa kliennya itu tidak mengakui adanya perbuatan penyerangan hingga upaya pembunuhan terhadap Nus Kei.

Sebab kata Anton, John Kei sudah menyerahkan kasus hutang piutangnya ke kuasa hukumnya Deni Kei.

Sehingga John Kei tidak mengetahui terkait penyerangan tersebut.

Bahkan saat hari penyerangan Minggu (21/6/2020) John Kei tengah beribadah di gereja.

Jadi perbuatan menagih ada, perbuatan hukum antara Nus Kei dan John Kei ada, tapi itu bukan perbuatan pidana,” paparnya.

Maka dari itu kuasa hukum menolak keseluruhan dakwaan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Utamanya tiga pasal yakni Pasal 340 KUHP terkait pembunuhan berencana, Pasal 338 KUHP terkait pembunuhan, dan Pasal 2 ayat 1 Undang-undang darurat RI Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api dan senjata tajam.

Terkait Pasal 338 KUHP klien kami disebut membunuh. Padahal klien kami tidak berada di lokasi tersebut,” terangnya.

Sementara untuk Pasal 340 KUHP, Anton juga mengklaim bahwa kliennya tidak terbukti telah memerintahkan bawahannya untuk menyerang dan membunuh Nus Kei.

Menurut Anton, tidak ada bukti di handphone yang memuat perintah pembunuhan seperti yang dituduhkan JPU.

Sedangkan untuk kepemilikan senjata, menurut Anton senjata itu merupakan senjata yang tidak aktif dipakai John Kei.

Karena barang bukti yang disita ialah senjata tajam tradisional yang menjadi pajangan di rumah John Kei.

Senjata itu merupakan senjata warisan dari nenek moyang John Kei yang sudah menjadi pajangan.

Diketahui sebelumnya John Kei didakwa pasal berlapis atas dugaan kasus penyerangan terhadap Nus Kei dan membuat satu orang tewas. John Kei didakwa atas pasal pembunuhan berencana.

Dakwaan sebanyak 450 halaman itu dibacakan oleh Ketua Jaksa Penuntut Umum R Bagus Wisnu di Pengadilan Negeri Jakarta Barat Rabu (13/1/2021).

Dalam dakwaan itu, John Kei dikenakan enam pasal sekaligus.

Yakni atas pembunuhan berencana, pengeroyokan hingga adanya korban meninggal, serta kepemilikan senjata api dan senjata tajam.

Pertama, John Kei didakwa Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Lalu kedua JPU juga mendakwa John Kei dengan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan.

Selain itu pasal ketiga John Kei didakwa 170 KUHP tentang pengeroyokan menyebabkan korban meninggal dunia.

Keempat John Kei didakwa Pasal 351 ayat 1 KUHP tentang penganiayaan.

Kelima ia didakwa Pasal 351 ayat 2 KUHP atas penganiayaan yang mengakibatkan luka berat.

Terakhir keenam, John Kei didakwa Pasal 2 ayat 1 Undang-undang darurat RI Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api dan senjata tajam.

Dalam dakwaan tersebut, John Kei dianggap terbukti memberikan perintah kepada anak buahnya untuk menghabisi Nus Kei.

John Kei memberikan uang sebesar Rp10 juta kepada anak buahnya sebelum melaksanakan penyerangan terhadap Nus Kei.

Perseteruan itu berawal dari perseteruan John Kei dan pamannya sendiri Nus Kei. Dalam dakwaan John Kei dianggap geram dengan Nus Kei lantaran tidak mengembalikan uang yang dipinjam senilai Rp1 Miliar.

John Kei juga anggap Nus Kei telah merendahkan harga dirinya karena mengejek John Kei via live instagram.

Penulis/Editor: Zulkarnain

Bagikan Berita Ini: