Curhat Sang Gubernur Papua kepada Presiden Jokowi: Tuduhan sebagai Pemimpin Tidak Nasionalis adalah Fitnah

progresifjaya.id, JAKARTA — Gubernur Papua Lukas Enembe mencurahkan hati (curhat) kepada Presiden Jokowi.

Enembe berharap presiden memberikan kepercayaan atau trust kepada dirinya. Dia ingin tak ada rasa curiga dari pemerintah pusat kepadanya.

“Saya meminta kepada pemerintah pusat, kepada Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo dan seluruh jajarannya untuk meletakkan trust atau rasa percaya kepada saya dan kepada rakyat Papua tanpa ada sekat dan menaruh curiga yang terbangun di tengah-tengah kita,” ujar Lukas Enembe di sela-sela perayaan ulang tahunnya ke-54 di Jayapura, dua hari lalu.

Curhatan sang gubernur ini diduga ada kaitannya  konflik mengenai pejabat Sekretaris Daerah yang diangkat Mendagri menjadi Plt Gubernur Papua, tanpa sepengetahuan Enembe yang  saat itu sedang sakit dan berobat ke luar negeri.

Enembe merasa dia masih menjabat sebagai gubernur tidak diberitahu tentang hal itu.

Menyambung curhatannya itu, Lukas Enembe mengatakan, dirinya adalah seorang kepala daerah yang bernilai sama dengan 33 kepala daerah provinsi lainnya di Indonesia, yakni sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah pusat.

“Tugas dan kewajiban juga serupa dengan Bapak Anies Baswedan di Jakarta, Bapak Ridwan Kamil di Jawa Barat, Bapak Nova Iriansyah di Aceh, Bapak Olly Dondokambey di Sulawesi Utara, Bapak Isran Noor di Kalimantan Timur, dan yang lainnya,” jelasnya.

“Kami semua adalah perpanjangan tangan pemerintah pusat yang ada di daerah,” katanya seraya menambahkan bukan berarti dirinya memiliki otoritas tanpa kendali, itu tidaklah benar.

“Saya masih memiliki kesadaran bahwa seorang gubernur juga wajib menaruh hormat kepada elemen pusat yang dipimpin oleh Bapak Presiden Joko Widodo,” ujarnya.

Dia ingin meluruskan bahwa kondisi yang ada saat ini akan terus bereskalasi dan sulit menemukan titik akhirnya. Apabila elemen pusat dan elemen daerah tidak saling membangun trust atau kepercayaan.

“Saya bersama rakyat Papua selalu berupaya untuk senantiasa mengedepankan kasih dalam setiap tindakan,” jelasnya.

“Kami sadar bahwa ketertinggalan Papua hari ini adalah akumulasi dari banyaknya persoalan yang belum sepenuhnya pudar dari masa-masa yang lalu,” katanya lagi.

“Oleh sebab itu, kami memilih sebuah visi yang bernama Papua Bangkit,” kata dia.

Enemne mengutip ucapan Presiden RI pertama, Ir Sukarno yang mengatakan nasionalis yang sejati itu adalah nasionalismenya, bukan timbul semata-mata tiruan dari nasionalisme Barat, akan tetapi timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan.

Dia merasa hingga saat ini masih ada yang meragukan nasionalismenya. Dia juga merasa tuduhan soal nasionalismenya menjurus pada fitnah.

“Saya sengaja mengutip kalimat Bung Karno soal nasionalisme. Sebab, hingga detik ini masih saja ada beberapa pihak yang menganggap nasionalisme saya terhadap NKRI tidak murni atau tidak ada sama sekali,” katanya.

“Tuduhan dan sangkaan terhadap nasionalisme yang saya miliki terkadang sudah di luar batas dan mengandung kadar fitnah yang sungguh tebal,” ujarnya.

Lukas Enembe merasa ada pihak yang menyerang dan menuduhnya sebagai seorang pemimpin yang tidak nasionalis.

“Merah Putih masih terjahit rapi menyelimuti hati saya,” katanya.

“Terlebih kami orang-orang asli Papua sangat berterima kasih oleh sebuah semboyan indah Bhinneka Tunggal Ika yang merajut tali persaudaraan kita selama puluhan tahun bangsa ini merdeka,” katanya lagi.

Editor: Isa Gautama

Bagikan Berita Ini: